Postingan

#131. Kuntowijoyo: Islam Sebagai (Ilmu Wahyu, Rasionalitas, Rekonstruksi Ilmu Sosial Profetik dan Peta pemikiran Mazab Global)

Gambar
 

#130 Antologi Puisi: Berbisik di Balik Bilik

Gambar
 #130 Antologi Puisi: Berbisik di Balik Bilik Sedari kecil Ku tak pernah diberi tau Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa seperti ini? Aku selalu menyangka Ayah jahat dan tak punya hati Tak pernah peduli pada keinginanku Padahal aku hanya ingin diberi waktu Untuk bertemu dengan ibu Diwaktu yang terus berjalan Tak terasa aku sudah dewasa Sudah saatnya aku mengerti Pada setiap hal yang aku tak mengerti Dan saat ini Aku sudah mengerti Mengapa hal itu tidak dikabulkan Ini semua adalah yang terbaik untukku Dari kutipan puisi di atas dapat dilihat bahwa penulis sangat menyelami perasaan yang disrasakan, perasaan jujur, kecewa, sedih dan harapan yang akhirnya pupus berubah jadi sebuah keikhlasan,  wujud nyata dari sebuah interaksi personal kehidupan, dalam puisi – puisinya menunjukkan sebuah proses kreatif .Kata – kata yang terbungkus dengan majas menghiasi di setiap bait – bait hingga memunculkan makna tersendiri. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi pembaca, da...

#129 SHORT STORY ANTOLOGI; -20Hz

Gambar
 #129 SHORT STORY ANTOLOGI; -20Hz SINOPSIS Samudra memandang sang purnama yang telah terlukis indah di sana, cahayanya begitu terang dan mampu bertahta di dalam gulita, menjadi pusat perhatian dunia yang menatapnya takjub, dia tak sendiri tapi Bersama jutaan bintang yang menjadi taburan indah pelengkapnya. “Wahai Samudra berhentilah menatapku, aku tak suksa dengan tatapn itu” tegas bulan pada Samudra. “Siapa yang menatap mu bulan, aku hanya ingin melihat pesona indah yang tercipta karena Tuhanku” ucap Samudra yang masih saja memandang Bulan. “Pesona apa yang kamu bicarakan Tuan? Bisakah anda lihat aku di sini dengan teman-temanku tetapi tatapan mu tertuju padaku” ucap Bulan percaya diri.   Dari kutipan cerita   di atas dapat dilihat bahwa pengarang mengajak pembaca untuk berimajinasi tentang alam sekitar, dan pembaca diminta untuk   membaca sampai selesai, interaksi sosial dan emosional para tokoh tokoh imajinasi   dalam penggalan di atas menggambar...
Gambar
 #128. Perjalanan Hara (Kumpulan Cerpen) Isi 32 halaman; 29 cm SINOPSIS Setelah beberapa saat mereka beristirahat, hari mulai malam, hujan pun belum juga berhenti,bahkan ditambah angin yang begitu kencang, mau tidak mau mereka harus tetap di mulut goa sambil menunggu reda dan mereka memutuskan untuk bermalam di mulut goa. “Sebaiknya kita bermalam dulu disini, besok pagi kita masuk, siapa tahu di dalam goa tersebut ada jawaban atas segala tanya yang belum ada jawabannya, apakah kalian bersedia masuk?” Tanya Hara kepada Badru dan Dimas dan mereka berdua langsung mengangguk tanda setuju. Hujan belum juga reda, angin sepertinya makin kencang, belum juga mereka merehatkan diri, terdengan suara AUUUUUUMMMM, AUUUUUMMM, AUUUUUMMM, serentak mereka berdiri sambil sedikit panik,  “Hara, suara apa itu, apakah suara binatang buas?” Tanya Badru agak gemetar “Sepertinya suara dari dalam goa,mari kita lihat” jawab Hara tenang“ Ayo kita cari tahu saja, suara apa yang ada di dalam goa” Ajak Dim...

#127. Kalam Sunyi Penjara Suci (Kumpulan Puisi)

Gambar
Kalam Sunyi Penjara Suci (Kumpulan Puisi) SINOPSIS Dia telah pergi jauh dari neg e ri ini Tetapi budaya dan ajarannya masih tertinggal Banyak orang mengikuti jejaknya Bodohnya mereka mengikuti jejak merugikan B egitu banyak orang   Orang tidak bersalah menjadi korban Remaja - remaja menjadi hilang masa depannya Neg e ri ini bagaikan kapal tanpa nahkoda B agaikan televisi yang siarannya bisa dipindah - pindah Jika saja mereka tidak datang ke neg e ri ini T idak meninggalkan jejak dan ajaran T idak meni n ggalkan sisa merugikan Mungkin neg e ri ini bisa hidup damai O rang - orang tidak akan kesusahan Dan mungkin remaja - remaja masih bisa menggapai masa depan Mungkin juga bisa menjadi neg e ri m akmur M elahirkan generasi - generasi berkualitas   S ayang , budaya ini sudah telanjur m e ndarah daging S elalu diajarkan dan diamalkan M alang negeri ini     Puisi “Sisa-sisa yang Merugikan” menggambarkan kesedihan dan kekecewaan terhadap pengaruh negatif yang ditinggalk...

#126. Antologi Cerpen: Fabula Nostra

Gambar
 Antologi Cerpen: Fabula Nostra Penulis: Fitri Nuraini, Ghifri Ramadani, Ariyani Khoiruna Anwar Nabila Andriyanti, Khasna Ruziqna, Tri Damayanti, Sy'ifa Ghaniya Putri, Atsna Nailimuna SINOPSIS:  “Lalisa Lalisa lalian….”Senandung ayah Lalisa”Tuuhhhh kan ayahhh, ayah siih ngasih nama Lalisa, pelupa kan jadinya.” Sarkas Lalisa kepada ayahnya. ”Lohh emang apa hubunganya nama Lalisa sama pelupa?.” Pertanyaan ibu Lalisa yang tiba-tiba muncul. ”Yaaahhh ibu ngga tau Lalisa itu kan hampir mirip sama kata lalian. ”Ayah Lalisa sedikit menerangkan kepada ibu Lalisa”Laaaahh terus hubunganya apa?.” tanya ibu Lalisa lagi sambil merapikan tempat bumbu” Nahhhh lalian itu dalam bahasa jawa artinya pelupa,itu makanya Lalisa jadi pelupa.” Lanjut ayah Lalisa yang masih disambi makan bakwannya. ”Ooooo begituuuu….yasudah sana berangkat sekolah nanti telat loooohh.” Perintah ibu Lalisa sambil beranjak pergi untuk membersihkan meja makan. ”Ibu terus kaos kakiku gimanaaa??? aku suruh pake apa?. ”L...